GoBanten.com - Tren masyarakat Indonesia mencari layanan kesehatan ke luar negeri terus meningkat. IHH Healthcare Malaysia memanfaatkan peluang tersebut dengan menghadirkan layanan wisata medis yang lebih ramah dan terintegrasi bagi pasien asal Indonesia.
Dalam ajang Malaysia Healthcare Expo 2026, perwakilan IHH menyebut Indonesia menjadi salah satu kontributor terbesar pasien. Dari total sekitar 1 juta pasien per tahun, sekitar 300 ribu di antaranya berasal dari Indonesia.
Baca juga: Rendy Hermawan Terdeteksi di Malaysia, Polri Bergerak Cepat Kejar Bandar Narkoba ‘The Doctor’
Perwakilan IHH, Khairul Anuar Yusof, mengatakan pihaknya terus menyesuaikan layanan agar lebih sesuai dengan kebutuhan pasien Indonesia.
“Selain dekat secara geografis, kami juga memahami kebutuhan pasien Indonesia, mulai dari komunikasi hingga kenyamanan selama menjalani perawatan,” ujarnya, Jumat (8/5/2026).
Ia menambahkan, fasilitas international patient center kini diperluas di sejumlah rumah sakit guna memberikan pendampingan menyeluruh, termasuk staf berbahasa Indonesia dan bantuan administrasi.
Baca juga: Heboh! Suara Live Ratna Listy Bikin Penonton Malaysia Merinding
Sementara itu, Country Manager IHH Malaysia Indoteam, Candrati Sukardji, mengungkapkan mayoritas pasien Indonesia datang untuk mendapatkan second opinion pada penyakit serius.
“Kasus yang paling banyak antara lain kanker, penyakit jantung, gangguan tulang dan sendi, hingga penyakit autoimun dan pencernaan,” jelasnya.
Menurutnya, kombinasi layanan medis modern, waktu tunggu yang relatif cepat, serta pendekatan pelayanan yang lebih personal menjadi alasan utama pasien memilih berobat ke luar negeri, khususnya ke Malaysia.
Baca juga: BRI Life Resmi Ekspansi Internasional, Gandeng Jaringan Medis Global
Di sisi lain, tingginya angka pasien yang berobat ke luar negeri menjadi perhatian Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diperkirakan 1–2 juta warga Indonesia menjalani pengobatan di luar negeri setiap tahun, dengan potensi devisa keluar mencapai Rp160–180 triliun.
Fenomena ini menegaskan bahwa peningkatan kualitas layanan, kepercayaan diagnosis, serta kenyamanan pasien menjadi faktor kunci dalam persaingan sektor kesehatan regional.
Editor : Sondang