TANGERANG, GoBanten.com -Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang menggenjot penyaluran bantuan bagi warga terdampak banjir yang melanda 12 wilayah sejak Kamis (22/1) hingga Sabtu (24/1/2026). Langkah ini diklaim untuk menjaga pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat selama masa tanggap darurat.
Hingga Sabtu, Pemkot mencatat telah menyalurkan 10.690 nasi bungkus ke sejumlah titik terdampak. Selain makanan siap saji, bantuan logistik juga digelontorkan dalam jumlah besar, meliputi 216 dus air mineral, 120 dus mie instan, 103 karung beras 5 kilogram, 46 paket keluarga (family kit), 30 perlengkapan anak (kids ware), 25 kasur lipat, serta 152 lembar selimut.
Kepala Dinas Sosial Kota Tangerang, Acep Wahyudi, menyebut distribusi dilakukan secara bertahap melalui posko pengungsian dan titik-titik terdampak, dengan melibatkan perangkat daerah, relawan, dan unsur kewilayahan. “Pemkot Tangerang menegaskan bahwa distribusi bantuan akan terus dilakukan sesuai kebutuhan di lapangan. Prioritas utama adalah pemenuhan pangan, air bersih, serta perlengkapan dasar bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil,” ujar Acep.
Namun, di tengah angka distribusi yang besar, sorotan muncul soal pemerataan bantuan dan kecepatan respons di sejumlah wilayah. Acep mengakui, titik paling krusial berada di kawasan Alamanda Periuk, Ciledug, dan Cipondoh. Ketiga wilayah tersebut menjadi lokasi dengan jumlah penerima bantuan terbanyak akibat genangan yang bertahan lebih lama dan berdampak pada permukiman padat. “Wilayah itu memang menjadi fokus karena kondisi lapangan paling berat. Kebutuhan di sana jauh lebih tinggi,” katanya.
Pemkot Tangerang menyatakan akan terus memantau dinamika di lapangan dan menyesuaikan distribusi bantuan dengan perkembangan situasi. Meski demikian, efektivitas penyaluran di seluruh 12 wilayah terdampak tetap menjadi catatan penting, mengingat cuaca ekstrem dan potensi banjir susulan masih membayangi.
Dengan penyaluran bantuan yang disebut berkelanjutan ini, Pemkot berharap kebutuhan dasar warga terdampak tetap terpenuhi. Di sisi lain, publik menanti langkah yang lebih sistematis, tak hanya dalam distribusi bantuan, tetapi juga dalam mitigasi banjir agar pola darurat yang sama tidak terus berulang setiap musim hujan.
(Tri Handiyatno)
Editor : Sondang