GoBanten.com - Lonjakan arus mudik Lebaran 2026 diperkirakan kembali menekan layanan transportasi penyeberangan. Pergerakan masyarakat melalui kapal ferry diproyeksikan mencapai sekitar 5,8 juta penumpang dan 1,4 juta kendaraan pada 15 lintasan utama yang menjadi pantauan nasional.
Operator penyeberangan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memperkirakan jumlah penumpang meningkat sekitar 9,4 persen, sementara kendaraan naik 9,3 persen dibanding periode Lebaran tahun sebelumnya. Lonjakan ini diprediksi terjadi terutama pada lintasan dengan mobilitas tinggi seperti Pelabuhan Merak – Pelabuhan Bakauheni serta Ketapang – Gilimanuk.
Direktur Operasional dan Transformasi ASDP, Rio Lasse, mengatakan peningkatan trafik tersebut telah diantisipasi dengan menyiapkan armada, fasilitas pelabuhan, serta penguatan sistem operasional selama periode angkutan Lebaran.
“Periode Lebaran selalu menjadi momentum dengan mobilitas sangat tinggi. Karena itu seluruh elemen operasional disiapkan agar layanan penyeberangan tetap berjalan optimal,” kata Rio, Jumat (13/3/2026).
Secara nasional, ASDP mengoperasikan 320 lintasan penyeberangan yang dilayani oleh 222 kapal melalui 37 pelabuhan di bawah pengelolaan 27 cabang. Dari jumlah tersebut, 91 lintasan merupakan rute komersial dan 229 lainnya merupakan lintasan perintis yang menghubungkan wilayah kepulauan.
Lintasan Jawa–Sumatera diperkirakan tetap menjadi jalur terpadat selama mudik. Arus dari Jawa menuju Sumatera diproyeksikan mencapai sekitar 1,56 juta penumpang dengan 371 ribu kendaraan, sementara arus balik Sumatera ke Jawa diperkirakan mencapai 1,51 juta penumpang dan lebih dari 353 ribu kendaraan.
Untuk meredam potensi kepadatan, ASDP menambah fasilitas operasional di pelabuhan utama, termasuk dermaga tambahan, area penyangga kendaraan, serta penerapan sistem pengaturan lalu lintas berbasis digital seperti geofencing.
Meski demikian, peningkatan trafik mudik kembali menyoroti ketergantungan besar mobilitas antarwilayah pada transportasi penyeberangan, khususnya di jalur strategis Jawa–Sumatera dan Jawa–Bali. Tanpa pengelolaan arus yang ketat, lonjakan penumpang dan kendaraan berisiko memicu antrean panjang di pelabuhan saat puncak arus mudik maupun arus balik.
Operator juga mengimbau masyarakat membeli tiket lebih awal melalui sistem daring untuk menghindari penumpukan kendaraan di area pelabuhan. Kebijakan ini sekaligus menutup penjualan tiket langsung di lokasi guna menekan praktik percaloan dan mengatur distribusi penumpang selama musim mudik.
Editor : Sondang