GoBanten.com - Peresmian Pesantren Modern Darul Azhar di Rangkasbitung, Banten, menjadi panggung penegasan arah baru pendidikan pesantren: tidak hanya mencetak santri religius, tetapi juga pelaku ekonomi dan talenta teknologi. Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar menilai transformasi itu mendesak di tengah tantangan kemiskinan dan disrupsi digital.
Pesantren yang dibangun dengan dukungan pendanaan International Islamic Charity Organization (IICO) Kuwait tersebut disebut sebagai model integrasi pendidikan agama, sains, dan keterampilan praktis.
“Pesantren bukan hanya tempat mengaji. Santri harus mandiri secara ekonomi, bahkan kaya, agar mampu membantu masyarakat,” tegas Muhaimin saat peresmian, Jumat (6/2/2026).
Ia menekankan, peran historis pesantren sebagai pilar pembentukan karakter bangsa harus diperluas menjadi motor peningkatan kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, kontribusi pesantren tidak bisa lagi dipisahkan dari agenda pengentasan kemiskinan dan pembangunan ekonomi.
“Dengan keterbatasan negara, pesantren hadir membantu umat. Karena itu pesantren harus kita dorong menjadi kekuatan pembangunan manusia,” ujarnya.
Dalam konteks kompetisi global, Muhaimin mendorong penguatan literasi digital dan penguasaan teknologi mutakhir, termasuk kecerdasan buatan.
“Pesantren harus melahirkan generasi yang menguasai AI dan mampu berperan dalam peradaban dunia,” katanya.
Ia juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kuwait dan IICO dalam pembangunan fasilitas pendidikan, seraya menilai kolaborasi internasional penting untuk memperkuat ekosistem pendidikan berbasis komunitas.
Di sisi lain, Muhaimin mengingatkan bahwa transformasi pesantren harus diiringi tata kelola pendidikan yang modern, fasilitas yang layak, serta ekosistem kewirausahaan yang nyata agar tidak berhenti pada slogan kemandirian.
“Tujuan akhirnya jelas: santri berilmu, berakhlak, dan berdaya secara ekonomi,” pungkasnya.
Peresmian Darul Azhar menegaskan pergeseran peran pesantren dari lembaga pendidikan tradisional menuju pusat pengembangan kompetensi sosial, ekonomi, dan teknologi di tingkat lokal.
Editor : Sondang