BANTEN - Insiden kebocoran gas kimia di kilang PT Vopak Indonesia, Cilegon, Banten, memicu sorotan tajam DPR RI. Anggota Komisi XII DPR RI Ratna Juwita Sari menilai peristiwa tersebut sebagai ancaman serius terhadap keselamatan publik dan mendesak penanganan cepat, terukur, serta investigasi menyeluruh tanpa kompromi.
Kebocoran gas yang terjadi di lingkungan Kalibaru, Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol, pada Sabtu (31/1/2026), menyebabkan 46 warga terpapar, mulai dari anak-anak hingga lansia. Para korban harus dilarikan ke puskesmas setelah menghirup asap kuning pekat berbau menyengat yang keluar dari area kilang.
“Ini bukan insiden kecil. Keselamatan warga, karyawan, hingga wisatawan harus menjadi prioritas utama. Lokasinya dekat kawasan wisata Pantai Anyer. Negara tidak boleh lamban menghadapi situasi darurat seperti ini,” tegas Ratna, Minggu (1/2/2026).
Warga dilaporkan mengalami sesak napas, pusing hebat, mual, hingga muntah, gejala yang mengindikasikan paparan gas kimia berbahaya.
Kepanikan pun sempat melanda kawasan sekitar karena asap tebal menyebar dengan cepat.
Berdasarkan informasi awal, insiden diduga terjadi saat perusahaan melakukan pembersihan pipa menuju kotak EBC (kempu) di sekitar tangki TK 0638. Sisa base oil di dalam pipa disebut bereaksi dengan residu bahan kimia yang masih mengendap, memicu pelepasan gas beracun.
Ratna menegaskan seluruh korban harus mendapat penanganan medis maksimal tanpa pengecualian. Ia juga meminta pemerintah dan aparat terkait segera melakukan audit keselamatan dan lingkungan, serta membuka hasil investigasi ke publik.
“PT Vopak harus transparan dan bertanggung jawab penuh. Jangan sampai kepentingan industri mengorbankan keselamatan rakyat. Ini peringatan keras bagi semua industri berisiko tinggi di Indonesia,” pungkasnya.
Editor : Sondang