GoBanten.com - Perlambatan ekonomi Sumatera Barat menjadi sorotan dalam Seminar Ekonomi Sumbar 2026. Di tengah pertumbuhan yang hanya 3,37 persen, Irman Gusman mendorong konsep “Minangkabau Incorporated” sebagai jalan keluar dari tekanan ekonomi daerah.
Namun, gagasan integrasi lintas sektor tersebut dinilai akan menghadapi tantangan besar di lapangan, terutama soal koordinasi dan eksekusi yang selama ini kerap menjadi kendala utama pembangunan daerah.
Baca juga: Senator Irman Gusman Desak Pemerintah: “Pak Prabowo, Tetapkan Bencana Nasional!”
“Kondisi global terhimpit, nasional juga tidak baik-baik saja. Ini warning bagi kita semua,” ujar Irman dalam forum yang digelar di Bappeda Sumatera Barat, Kamis (2/4/2026).
Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam satu arah kebijakan. Bahkan, Bappeda didorong menjadi pusat kendali atau crisis center ekonomi daerah.
Meski demikian, sejumlah peserta menilai konsep tersebut berisiko berhenti di level wacana jika tidak disertai langkah konkret dan keberanian mengambil keputusan cepat.
Irman juga menyoroti sektor pariwisata sebagai solusi cepat (quick win), termasuk pengembangan kawasan Mentawai. Namun, persoalan klasik seperti infrastruktur, aksesibilitas, dan tata kelola dinilai masih menjadi hambatan yang belum terselesaikan.
Di sisi lain, peluang pendanaan dari program rehabilitasi dan rekonstruksi senilai Rp33 triliun disebut sebagai momentum penting. “Kalau hanya menunggu, tidak akan terjadi apa-apa,” tegas Irman.
Forum yang menghadirkan berbagai pemangku kepentingan ini menegaskan satu hal: tanpa perubahan cara kerja dan percepatan eksekusi, ambisi kebangkitan ekonomi Sumbar berisiko kembali terjebak dalam pola lama—banyak konsep, minim realisasi.
Editor : Sondang