JAKARTA, GoBanten.com - Tingginya angka rawat ulang pasien gagal jantung di Indonesia mendorong munculnya inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan deteksi dini risiko perburukan kondisi pasien sebelum keluar dari rumah sakit.
Data Asian-HF Registry menunjukkan Indonesia menempati posisi kedua kasus gagal jantung terbanyak di Asia, dengan angka kematian mencapai 34,1 persen dalam satu tahun. Sekitar 30 persen pasien bahkan harus kembali dirawat akibat kondisi yang memburuk setelah dipulangkan.
Baca juga: AI dan Keamanan Siber Jadi Fokus Baru dalam Regulasi Industri Nasional
Salah satu faktor utama yang memicu kondisi tersebut adalah masih adanya penumpukan cairan di paru (residual pulmonary congestion) yang kerap tidak terdeteksi dalam pemeriksaan rutin. Keterbatasan alat seperti lung ultrasound maupun pemeriksaan biomarker yang membutuhkan biaya tinggi membuat deteksi dini belum optimal di banyak fasilitas kesehatan.
Menjawab persoalan ini, dokter spesialis jantung dari Primaya Hospital Tangerang, dr. Rony M. Santoso, mengembangkan perangkat berbasis AI bernama NAVI-HF. Alat ini dirancang untuk menganalisis suara paru guna membantu mengidentifikasi tanda kongesti paru secara lebih cepat dan objektif.
“Banyak pasien tampak stabil secara klinis, tetapi masih menyimpan risiko perburukan. Melalui analisis suara paru berbasis AI, kami berupaya menangkap tanda-tanda yang tidak selalu terdengar dengan pemeriksaan konvensional,” ujar dr. Rony dalam keterangannya, Rabu (15/7/2026).
Baca juga: Cuma Sekali Tekan! Mesin Cuci LG Ini Bisa Cuci dan Keringkan Otomatis
Berbeda dari stetoskop biasa, NAVI-HF merekam suara dada dari lima titik pemeriksaan dalam waktu sekitar satu menit, kemudian mengolahnya menggunakan algoritma AI. Hasil analisis tersebut membantu dokter menentukan apakah pasien masih berisiko tinggi mengalami perburukan setelah pulang.
Dalam uji klinis terhadap 246 pasien gagal jantung akut, teknologi ini mencatat akurasi 86 persen, dengan sensitivitas 91 persen dan spesifisitas 82 persen. Studi lanjutan juga menunjukkan pasien dengan hasil positif memiliki risiko 1,6 kali lebih tinggi untuk kembali dirawat.
Temuan ini membuka peluang penggunaan AI sebagai alat bantu klinis yang lebih praktis, terutama di fasilitas kesehatan dengan keterbatasan alat diagnostik. Selain itu, teknologi ini dinilai berpotensi mendukung pemantauan pasien secara jarak jauh melalui layanan telemedicine.
Baca juga: Huawei Rilis Huawei Mate X7 di Indonesia, Ponsel Lipat Tipis dengan Kamera dan Fitur AI
Meski demikian, dr. Rony menegaskan bahwa teknologi tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran dokter. “AI adalah alat bantu untuk meningkatkan akurasi dan kecepatan pengambilan keputusan, bukan pengganti penilaian klinis,” katanya.
Pengembangan NAVI-HF mencerminkan arah baru pemanfaatan AI di bidang kesehatan, terutama dalam menekan angka rawat ulang dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Dengan deteksi risiko yang lebih dini, sistem layanan kesehatan diharapkan dapat lebih efektif dalam menangani beban penyakit gagal jantung yang terus meningkat.
Editor : Sondang