Hari Pers Nasional

Media Diminta Jadi Penjaga Ruang Kebudayaan, Bukan Sekadar Peliput

Reporter : Sondang
HPN 2026 di Serang tidak hanya menjadi perayaan profesi pers, tetapi juga forum kritik terhadap arah pembangunan yang dinilai kerap menempatkan kebudayaan pada posisi marginal. Foto ist

GoBanten.com - Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Serang, Banten, menempatkan isu kebudayaan lokal sebagai sorotan utama di tengah derasnya arus homogenisasi budaya. Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dijadwalkan menjadi pembicara kunci dalam Dialog Kebudayaan Anugerah Kebudayaan (AK) PWI Pusat bertema “Membangun Kebudayaan dari Pinggir (Daerah)”, Minggu (8/2/2026).

Forum tersebut menegaskan kembali posisi daerah sebagai fondasi kebudayaan nasional, sekaligus menguji konsistensi negara dan pemerintah daerah dalam melindungi ruang hidup tradisi lokal yang kerap terdesak logika pembangunan ekonomi semata.

Baca juga: Dana RKUD Rp3 Triliun Dialihkan, Pemkab Serang Percayakan ke Bank Banten

Dalam audiensi dengan jajaran PWI Pusat pada 6 Februari 2026, Fadli Zon menekankan bahwa kebudayaan tidak dapat diperlakukan sebagai pelengkap seremonial, melainkan sebagai sumber daya strategis bangsa yang berkelanjutan.

“Kebudayaan adalah kekayaan yang tidak akan habis selama diwariskan dan dipraktikkan. Berbeda dengan sumber daya alam, kebudayaan hidup dari manusia dan komunitasnya,” ujar Fadli.

Ia menilai media massa memegang peran kunci dalam menentukan arah perhatian publik terhadap kebudayaan, khususnya di daerah yang sering luput dari sorotan nasional.

“Media bukan sekadar peliput, tetapi ruang dokumentasi, refleksi, dan penggerak kesadaran publik tentang pentingnya kebudayaan lokal,” tegasnya.

Baca juga: Banten Perkuat Modernisasi Pertanian, 21 Petani Milenial Dikirim Magang ke Jepang

Dialog kebudayaan dalam rangka HPN 2026 juga menjadi panggung evaluasi bagi komitmen pemerintah daerah. Fadli mengapresiasi sepuluh kepala daerah penerima Anugerah Kebudayaan PWI 2026, namun mengingatkan bahwa dukungan kebijakan dan anggaran harus terukur, bukan simbolik.

“Keberpihakan terhadap kebudayaan harus tercermin dalam kebijakan nyata dan alokasi anggaran. Tanpa itu, pelestarian hanya menjadi wacana,” katanya.

Direktur Anugerah Kebudayaan PWI Pusat Yusuf Susilo Hartono menegaskan tema pembangunan kebudayaan dari daerah dipilih sebagai respons atas ketimpangan perhatian antara pusat dan wilayah.

Baca juga: Bupati Serang Pastikan Korban Pelecehan Seksual di Waringinkurung Dapat Perlindungan Hukum

“Kebudayaan tumbuh dari komunitas. Jika daerah diabaikan, kita kehilangan akar identitas nasional,” ujarnya.

HPN 2026 di Serang tidak hanya menjadi perayaan profesi pers, tetapi juga forum kritik terhadap arah pembangunan yang dinilai kerap menempatkan kebudayaan pada posisi marginal. Melalui dialog ini, PWI dan pemerintah diharapkan mendorong kebijakan kebudayaan yang lebih berpihak pada komunitas lokal sebagai penjaga identitas bangsa.

(Tri Handiyatno)

Editor : Sondang

Tangerang Raya
Berita Populer
Berita Terbaru