Aritmia Terdeteksi pada 164 Peserta Skrining EKG, Kenali Gejalanya

Reporter : Sondang
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan fibrilasi atrium sebagai salah satu kondisi jantung yang dapat meningkatkan risiko stroke.

JAKARTA, GoBanten.com - Gangguan irama jantung atau aritmia dapat ditemukan melalui pemeriksaan elektrokardiogram (EKG), bahkan pada orang yang belum menyadari adanya masalah pada jantungnya. Kondisi ini menjadi perhatian setelah skrining terhadap 1.412 orang menemukan 164 peserta terdeteksi mengalami aritmia.

Data tersebut berasal dari skrining EKG dalam kampanye “Let’s Check the Beat” yang berlangsung pada 5 Maret hingga 15 September 2026. Peserta berusia 15-64 tahun, dengan 11,6 persen di antaranya menunjukkan indikasi gangguan irama jantung.

Baca juga: Inovasi AI Dokter Indonesia Bantu Deteksi Dini Gagal Jantung

Temuan itu berarti sekitar satu dari setiap 10 peserta yang menjalani pemeriksaan menunjukkan indikasi aritmia. Data skrining tersebut sekaligus menunjukkan bahwa gangguan irama jantung tidak selalu mudah dikenali tanpa pemeriksaan.

Salah satu jenis aritmia yang perlu mendapat perhatian adalah fibrilasi atrium atau atrial fibrillation (AF). Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa pemeriksaan EKG dapat digunakan untuk melihat aktivitas listrik jantung yang tidak teratur pada pasien dengan AF.

AF juga berkaitan dengan risiko stroke. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan fibrilasi atrium sebagai salah satu kondisi jantung yang dapat meningkatkan risiko stroke.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Dr. Siti Nadia Tarmizi, mengatakan AF dapat muncul tanpa gejala sehingga deteksi dini diperlukan untuk menemukan risiko dan menentukan tindak lanjut.

“AF adalah gangguan irama jantung yang sering tidak bergejala, tetapi dapat berujung pada stroke, gagal jantung, hingga kematian jantung mendadak,” ujar Siti Nadia dalam keterangan yang disampaikan dalam kampanye tersebut, Kamis (1/10/2026).

Baca juga: Ciputra Cardiac Center Perkuat Kolaborasi dengan Prudential melalui Agency Gathering

Ketua Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS), dr. Erika Maharani, Sp.JP(K), mengatakan peningkatan kasus aritmia perlu diikuti dengan edukasi dan upaya deteksi dini yang konsisten.

Sementara itu, Hospital Director Siloam Hospitals TB Simatupang dr. Dewi Wiguna, M.Sc, mengatakan dari 1.412 peserta skrining, 164 orang terdeteksi mengalami aritmia. Kelompok usia 25-44 tahun menjadi kelompok dengan jumlah peserta terdeteksi aritmia terbanyak dalam data skrining tersebut.

Namun, Dewi menegaskan komposisi tersebut tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa kelompok usia produktif memiliki risiko aritmia lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lanjut.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Siloam Hospitals TB Simatupang Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, mengatakan aritmia, khususnya AF, perlu dikenali dan ditangani sesuai kondisi pasien.

Pemeriksaan EKG menjadi salah satu pemeriksaan untuk memastikan adanya gangguan irama jantung. Pada pasien tertentu, pemeriksaan lanjutan seperti Holter dapat digunakan untuk merekam aktivitas listrik jantung dalam periode yang lebih panjang.

Pentingnya deteksi gangguan irama jantung juga terlihat dalam pedoman tata laksana stroke terbaru Kementerian Kesehatan. Pedoman 2026 merekomendasikan Holter EKG 24 jam pada pasien stroke atau TIA yang penyebabnya belum jelas untuk mendeteksi fibrilasi atrium paroksismal.

Melalui kampanye tersebut, masyarakat yang mengikuti skrining juga mendapat edukasi mengenai aritmia dan rekomendasi tindak lanjut bagi peserta yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Upaya deteksi dini diharapkan membantu menemukan gangguan irama jantung lebih awal sebelum berkembang menjadi komplikasi serius.

Editor : Sondang

Tangerang Raya
Berita Populer
Berita Terbaru