JAKARTA, GoBanten.com - Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) kembali menggelar Agrarian Reform Media Awards (ARMA) 2026 di tengah meningkatnya konflik agraria dan kasus kekerasan terhadap masyarakat yang memperjuangkan hak atas tanah.
Berdasarkan Catatan Akhir Tahun KPA 2025, tercatat 341 konflik agraria dengan luas wilayah mencapai 914.574 hektare. Konflik tersebut berdampak terhadap 123.612 keluarga atau meningkat 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
KPA juga mencatat kasus kekerasan dan kriminalisasi terhadap warga dalam perjuangan mempertahankan hak atas tanah meningkat 32 persen. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan pentingnya peran media dalam mengungkap persoalan agraria dan memastikan suara masyarakat terdampak mendapat ruang.
Sekretaris Jenderal KPA Dewi Kartika mengatakan jurnalisme independen dibutuhkan untuk mengungkap akar konflik agraria, terutama di tengah meningkatnya investasi skala besar dan pembangunan.
“Media bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membantu membongkar akar persoalan, menghadirkan suara rakyat, dan mendorong pelaksanaan reforma agraria sejati di Indonesia,” ujar Dewi, Selasa (11/8/2026).
Melalui ARMA 2026, KPA bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengajak jurnalis menghasilkan karya yang mengangkat persoalan konflik agraria, perjuangan hak atas tanah dan reforma agraria.
Tahun ini, ARMA mengusung tema “Perjuangan Reforma Agraria di Tengah Investasi Oligarki, Otoritarianisme Pembangunan, dan Militerisme.” Kompetisi terbuka untuk karya jurnalistik teks, audio-visual dan foto, termasuk liputan investigasi, liputan mendalam, feature, foto berita dan esai.
Karya yang dapat didaftarkan merupakan produk jurnalistik yang terbit pada periode 1 Januari 2025 hingga 31 Agustus 2026. Pengiriman karya dibuka pada 1-31 Agustus 2026 melalui email armakpa2026@kpa.or.id.
Pemenang setiap kategori akan memperoleh trofi ARMA 2026 dan uang apresiasi. Pengumuman pemenang dan penyerahan penghargaan dijadwalkan berlangsung dalam Malam Anugerah ARMA pada 24 September 2026 di Jakarta.
KPA berharap penghargaan tersebut dapat mendorong semakin banyak liputan berkualitas mengenai persoalan agraria sekaligus meningkatkan perhatian publik terhadap agenda reforma agraria di Indonesia.
Editor : Sondang