GoBanten.com - Memasuki tahun ke-12, Prambanan Jazz Festival 2026 mengambil arah baru. Tak lagi sekadar menghadirkan musisi populer, festival ini mendorong para penampil lintas genre untuk mengaransemen ulang karya mereka ke dalam format jazz lewat konsep “Playing Jazz”.
Festival yang digelar 3–5 Juni 2026 di Kompleks Candi Prambanan ini disebut sebagai respons atas kritik publik yang menilai unsur jazz dalam beberapa tahun terakhir kurang menonjol. Kini, penyelenggara mencoba “mengembalikan ruh jazz” tanpa meninggalkan daya tarik pasar.
Baca juga: 30 Tahun Berkarya, Sheila On 7 Hadirkan Single Sederhana
Founder Prambanan Jazz, Anas Alimi, mengatakan sekitar 60 persen line-up tahun ini telah diarahkan ke nuansa jazz, termasuk musisi non-jazz yang diminta beradaptasi.
“Kami minta mereka membawakan musiknya dengan pendekatan jazz. Ini cara agar tetap relevan, tapi juga lebih kuat secara identitas,” ujarnya.
Langkah ini membuat sejumlah nama seperti The Panturas, Perunggu, hingga NIKI tampil dengan aransemen berbeda dari karakter aslinya. Pendekatan tersebut dinilai menjadi eksperimen besar, sekaligus ujian apakah jazz bisa lebih diterima publik luas.
Kurator festival, Shadu Rasjidi, menyebut konsep ini sebagai upaya menjembatani selera pasar dengan edukasi musik.
“Ini bukan sekadar festival, tapi ruang adaptasi. Musisi belajar jazz, penonton juga ikut mengenal jazz,” katanya.
Namun di balik itu, strategi ini juga mencerminkan tantangan festival musik saat ini: menjaga idealisme genre sekaligus bertahan secara komersial. Kehadiran musisi populer dengan basis penggemar besar tetap dipertahankan demi keberlanjutan acara.
Dengan kombinasi eksplorasi musik dan pertimbangan pasar, Prambanan Jazz 2026 mencoba membuktikan bahwa jazz tidak harus eksklusif—melainkan bisa bertransformasi mengikuti zaman tanpa kehilangan akar.
Editor : Sondang