GoBanten.com - Pencemaran Kali Jaletreng pascakebakaran gudang bahan kimia di kawasan Taman Tekno menyorot seriusnya pengawasan limbah industri di wilayah permukiman padat BSD–Serpong. Kematian massal ikan dan perubahan warna air menjadi putih susu dinilai sebagai indikasi kuat paparan zat berbahaya yang berisiko langsung pada kesehatan warga.
Petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangerang Selatan memastikan sumber pencemaran berasal dari aliran air kawasan pergudangan.
Baca juga: Harta Rp5,5 Miliar Benyamin Davnie Jadi Sorotan di Tengah Anggaran Kendaraan Dinas Rp19,95 Miliar
“Hasil penelusuran menunjukkan air tercemar mengalir dari Taman Tekno. Sampel awal menguatkan dugaan kematian ikan akibat limbah kimia dari gudang yang terbakar,” ujar Yopi, petugas pengawasan DLH di lokasi, Senin (9/2/2026).
DLH mengimbau warga tidak mengonsumsi ikan dari aliran sungai maupun danau sekitar karena dikhawatirkan mengandung zat beracun.
Upaya penanganan darurat dilakukan, namun proses pemulihan kualitas air diperkirakan tidak instan.
Baca juga: Tangsel Peringkat 1 Polusi Indonesia, Jakarta Nomor Dua
Sejumlah pemerhati lingkungan menilai insiden ini mencerminkan lemahnya sistem pencegahan dan pengendalian limbah di kawasan industri yang berdekatan dengan hunian.
“Kebakaran tidak boleh berujung pada pelepasan bahan berbahaya ke badan air. Jika prosedur pengamanan berjalan, dampak ekologis tidak akan separah ini,” kata analis kebijakan lingkungan urban, Rudi Hartanto.
Baca juga: Pegadaian CPS Pondok Aren Perkuat ESG Lewat Santunan Yatim dan Dhuafa di Tangsel
Kasus ini juga memunculkan pertanyaan soal akuntabilitas pengelola kawasan dan kepatuhan standar keselamatan bahan kimia.
Warga BSD–Serpong kini menghadapi risiko paparan lingkungan, sementara investigasi lanjutan dan uji laboratorium komprehensif masih berjalan untuk memastikan jenis serta tingkat toksisitas pencemar.
Editor : Sondang